Jumat, 31 Desember 2010

Teknologi Pertanian

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI PERTANIAN PERALATAN PENGOLAHAN TANAH TRADISIONAL KE MODERN DI INDONESIA DAN DAMPAKNYA BAGI LINGKUNGAN
PAPER
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Sejarah Teknologi
yang dibimbing oleh Najib Jauhari, S.Pd., M.Hum.

Oleh:
INdah Tri Wulansari
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
November 2010



PEMBAHASAN
Definisi Teknologi Pertanian
Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa difahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (bahasa Inggris: crop cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan. Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDB dunia. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor - sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto. Kelompok ilmu-ilmu pertanian mengkaji pertanian dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya. Inti dari ilmu-ilmu pertanian adalah biologi dan ekonomi. Karena pertanian selalu terikat dengan ruang dan waktu, ilmu-ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, meteorologi, permesinan pertanian, biokimia, dan statistika, juga dipelajari dalam pertanian. Usaha tani (farming) adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh "petani tembakau" atau "petani ikan". Pelaku budidaya hewan ternak (livestock) secara khusus disebut sebagai peternak (Wikipedia, 2010). Sedangkan teknologi pertanian merupakan penerapan prinsip-prinsip matematika dan ilmu pengetahuan alam dalam rangka pendayagunaan secara ekonomis sumberdaya pertanian dan sumberdaya alam untuk kesejahteraan manusia. Falsafahnya teknologi pertanian merupakan praktik-empirik yang bersifat pragmatik finalistik, dilandasi paham mekanistik-vitalistik dengan penekanan pada objek formal kerekayasaan dalam pembuatan dan penerapan peralatan, bangunan, lingkungan, sistem produksi serta pengolahan dan pengamanan hasil produksi. Objek formal dalam ilmu pertanian budidaya reproduksi berada dalam fokus budidaya, pemeliharaan, pemungutan hasil dari flora dan fauna, peningkatan mutu hasil panen yang diperoleh, penanganan, pengolahan dan pengamanan serta pemasaran hasil. Oleh sebab itu, secara luas cakupan teknologi pertanian meliputi berbagai penerapan ilmu teknik pada cakupan objek formal dari budidaya sampai pemasaran (Wikipedia, 2010). Cangkupan Pertanian Pertanian dalam pengertian yang luas mencakup semua kegiatan yang melibatkan pemanfaatan makhluk hidup (termasuk tanaman, hewan, dan mikrobia) untuk kepentingan manusia. Dalam arti sempit, pertanian juga diartikan sebagai kegiatan pemanfaatan sebidang lahan untuk membudidayakan jenis tanaman tertentu, terutama yang bersifat semusim. Usaha pertanian diberi nama khusus untuk subjek usaha tani tertentu. Kehutanan adalah usaha tani dengan subjek tumbuhan (biasanya pohon) dan diusahakan pada lahan yang setengah liar atau liar (hutan). Peternakan menggunakan subjek hewan darat kering (khususnya semua vertebrata kecuali ikan dan amfibia) atau serangga (misalnya lebah). Perikanan memiliki subjek hewan perairan (termasuk amfibia dan semua non-vertebrata air). Suatu usaha pertanian dapat melibatkan berbagai subjek ini bersama-sama dengan alasan efisiensi dan peningkatan keuntungan. Pertimbangan akan kelestarian lingkungan mengakibatkan aspek-aspek konservasi sumber daya alam juga menjadi bagian dalam usaha pertanian. Semua usaha pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang sama akan pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih/bibit, metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk, pengolahan dan pengemasan produk, dan pemasaran. Apabila seorang petani memandang semua aspek ini dengan pertimbangan efisiensi untuk mencapai keuntungan maksimal maka ia melakukan pertanian intensif (intensive farming). Usaha pertanian yang dipandang dengan cara ini dikenal sebagai agribisnis. Program dan kebijakan yang mengarahkan usaha pertanian ke cara pandang demikian dikenal sebagai intensifikasi. Karena pertanian industrial selalu menerapkan pertanian intensif, keduanya sering kali disamakan. Sisi yang berseberangan dengan pertanian industrial adalah pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture). Pertanian berkelanjutan, dikenal juga dengan variasinya seperti pertanian organik atau permakultur, memasukkan aspek kelestarian daya dukung lahan maupun lingkungan dan pengetahuan lokal sebagai faktor penting dalam perhitungan efisiensinya. Akibatnya, pertanian berkelanjutan biasanya memberikan hasil yang lebih rendah daripada pertanian industrial. Pertanian modern masa kini biasanya menerapkan sebagian komponen dari kedua kutub "ideologi" pertanian yang disebutkan di atas. Selain keduanya, dikenal pula bentuk pertanian ekstensif (pertanian masukan rendah) yang dalam bentuk paling ekstrem dan tradisional akan berbentuk pertanian subsisten, yaitu hanya dilakukan tanpa motif bisnis dan semata hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau komunitasnya. Sebagai suatu usaha, pertanian memiliki dua ciri penting: selalu melibatkan barang dalam volume besar dan proses produksi memiliki risiko yang relatif tinggi. Dua ciri khas ini muncul karena pertanian melibatkan makhluk hidup dalam satu atau beberapa tahapnya dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu serta jangka waktu tertentu dalam proses produksi. Beberapa bentuk pertanian modern (misalnya budidaya alga, hidroponika) telah dapat mengurangi ciri-ciri ini tetapi sebagian besar usaha pertanian dunia masih tetap demikian.
Sejarah Perkembangan Teknologi Pertanian di Indonesia
Masa bercocok tanam di Indonesia dimulai kira-kira bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengumpam alat-alat batu berserta mulai dikenalnya teknologi pembuatan gerabah (Soejono, 1975:156-157). Dari masa prasejarah teknologi pertanian mulai dikenal dan terus berkembang sampai sekarang, perkembangan tersebut seiring dengan meningkatnya perkembangan budaya yang lain. Yang menandai adanya teknologi pertanian pada masa prasejarah adalah ditemukannya kapak persegi yang telah diumpam halus kecuali bagian pangkalnya sebagai tempat ikatan tangkai, dan digunakan sebagai salah satu alat pertanian. Pada masa perundagian alat-alat tersebut berubah bentuk dan menjadi peralatan logam terutama beliung persegi yang berasal dari perunggu dan besi, mengalami evolusi bentuk tetapi bentuknya masih secara garis besar sama dengan alat pada jaman sebelumnya.Perkembangan teknologi pertanian memasuki jaman sejarah mengalami perkembangan yang agak signifikan karena disini sudah terdapat pengklasifikasian alat misalnya alat untuk pengolahan tanah berbeda dengan alat untuk proses penanaman, dan pengambilan hasil tanaman, juga pembedaan peralatan produksi tradisional di bidang pertanian dibagi menjadi 2 yaitu peralatan yang digunakan di sawah dan di ladang (Saadah, 1991:11). Peralatan masih bersifat tradisional hingga produktivitasnya kurang maksimal.

Masa bercocok tanam di Indonesia dimulai kira-kira bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengumpam alat-alat batu berserta mulai dikenalnya teknologi pembuatan gerabah (Soejono, 1975:156-157). Dari masa prasejarah teknologi pertanian mulai dikenal dan terus berkembang sampai sekarang, perkembangan tersebut seiring dengan meningkatnya perkembangan budaya yang lain. Yang menandai adanya teknologi pertanian pada masa prasejarah adalah ditemukannya kapak persegi yang telah diumpam halus kecuali bagian pangkalnya sebagai tempat ikatan tangkai, dan digunakan sebagai salah satu alat pertanian. Pada masa perundagian alat-alat tersebut berubah bentuk dan menjadi peralatan logam terutama beliung persegi yang berasal dari perunggu dan besi, mengalami evolusi bentuk tetapi bentuknya masih secara garis besar sama dengan alat pada jaman sebelumnya.Perkembangan teknologi pertanian memasuki jaman sejarah mengalami perkembangan yang agak signifikan karena disini sudah terdapat pengklasifikasian alat misalnya alat untuk pengolahan tanah berbeda dengan alat untuk proses penanaman, dan pengambilan hasil tanaman, juga pembedaan peralatan produksi tradisional di bidang pertanian dibagi menjadi 2 yaitu peralatan yang digunakan di sawah dan di ladang (Saadah, 1991:11). Peralatan masih bersifat tradisional hingga produktivitasnya kurang maksimal. Teknologi pertanian pada masa modern mengalami bentuk yang sangat berbeda dengan pertanian tradisional. Peningkatan pada kemampuan mesin untuk mendorong produktifitas pertanian semakin sempurna. Bentuk dan fungsi alat berkembang sehingga peralatan tersebut dapat menghemat biaya produksi pertanian. Di negara maju pertanian merupakan pendukung sentra industri negeri dan penghasil devisa negara melalui ekspor. Bidang teknologi pertanian secara keilmuan merupakan hibrida dari ilmu teknik dan ilmu pertanian. Sejarah lahirnya ilmu-ilmu dalam lingkup teknologi pertanian dipicu oleh kebutuhan untuk pemenuhan pembukaan dan pengerjaan lahan pertanian secara luas di Amerika Serikat maupun eropa pada pertengahan abad ke-18. Perkembangan pendidikan tinggi teknologi pertanian di Indonesia yang dimulai awal tahun 1960-an tidak terlepas dari perkembangan pendidikan tinggi teknik dan dan pertanian sejak zaman pendudukan Belanda yang memang secara historis meletakkan dasarnya di Indonesia. Perang dunia I yang terjadi di Eropa telah menyebabkan gangguan hubungan internasional antara lain, armada sulit untuk masuk ke Samudra Hindia sehingga tenaga-tenaga ahli yang sebelumnya banyak didatangkan dari Eropa mengalami kesulitan. Pencetakan tenaga ahli teknik menengah dan tinggi (baik untuk bidang teknik dan pertanian) menjadi kebutuhan oleh pemerintah Hindia Belanda pada waktu pendudukan di Indonesia. Untuk mencukupi kebutuhan tenaga terampil bidang pertanian, peternakan dan perkebunan yang secara intensif dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda di Jawa dan Sumatra dalam program cultur stelseels pada awal abad ke-19. Untuk pemenuhan kebutuhan tersebut, maka di Bogor (Buitenzorg) didirikan beberapa lembaga pendidikan menengah untuk bidang pertanian dan kedokteran hewan, yakni Middlebare Landbouw Schooll, Middlebare Bosbouw Schooll dan Nederlandssch Indische Veerleeen School (Wikipedia, 2010).

Teknik Pertanian dan Hasil Teknologi Pertanian

Teknik pertanian merupakan pendekatan teknik (engineering) secara luas dalam bidang pertanian yang sangat dibutuhkan untuk melakukan transformasi sumberdaya alam secara efisien dan efektif untuk pemanfaatannya oleh manusia. Dengan demikian dalam sistematika keilmuan, bidang teknik pertanian tetap bertumpu pada bidang ilmu teknik untuk memcahkan berbagai permasalahan di bidang pertanian. Terminologi teknik pertanian sebagai padanan Agricultural Engineering diperkenalkan di Indonesia pada paruh 1990-an. Sebelumnya terminologi yang digunakan lebih sempit, yaitu mekanisasi pertanian yang diadopsi dari Agricultural Mechanization, sejak awal 1990-an bersamaan dengan pengenalan dan penggunaan traktor untuk program intensifikasi pertanian. Bidang cakupan teknik pertanian antara lain adalah sebagai berikut : alat dan mesin budidaya pertanian, mempelajari penggunaan, pemeliharaan dan pengembangan alat dan mesin budidaya pertanian. Teknik tanah dan air, menelaah persoalan yang berhubungan dengan irigasi, pengawetan dan pelestarian sumberdaya tanah dan air. Energi dan Elektrifikasi Pertanian, mencakup prinsip-prinsip teknologi energi dan daya serta penerapannya dalam kegiatan pertanian. Lingkugan dan bangunan pertanian, mencakup masalah yang berkaitan dengan perencanaan dan konstruksi bangunan khusus untuk keperluan pertanian, termasuk unit penyimpanan tanaman dan peralatan, pusat pengolahan dan sistem pengendalian iklim serta sesuai keadaan lingkungan. Teknik pengolahan pangan dan hasil pertanian, penggunaan mesin untuk menyiapkan hasil pertanian, baik untuk disimpan atau digunakan sebagai bahan pangan atau penggunan lainnya. Perkembangan ilmu sistem pada tahun 1980-an memberikan imbas pada bidang teknik pertanian, dengan berkembangnya ranah sistem dan manajemen mekanisasi pertanian, yang merupakan penerapan manajamen dan analisis sistem untuk penerapan mekanisasi pertanian. Perkembangan berikutnya, pada abad ke-20 menuju abad ke-21 berkaitan denga ilmu komputasi, teknologi pembantu otak dan otot lewat sistem kontrol, sistem pakar, kecerdasan buatan berupa penerapan robot pada sistem pertanian, menjadikan teknik pertanian berkembang menjadi sistem teknik pertanian (Agricultural System Engineering). Objek formal yang berupa kegiatan reproduksi flora dan fauna serta biota akuatik didekati lebih luas lagi sebagai sistem hayati/biologis dengan orientasi pemecahan masalah pertanian secara holistik. Dalam pendekatan ini sumberdaya hayati berupa mikroba/mikroorganisme turut dijadikan objek formal dalam produksi dan peningkatan biomassa. Di beberapa perguruan tinggi di Amerika dan Jepang, program studi atau departemen yang dulu bernama Teknik Pertanian, kini berganti dengan nama Teknik Sistem Biologis (Biological System Engineering). Teknologi pertanian sangat erat sekali hubungannya dengan teknologi hasil pangan. Dalam hal ini teknologi pertanian berperan sangat penting dalam menggembangakan hasil pangan yang maksimal dan lebih bermanfaat. Bahan pangan sebagai salah satu kebutuhan primer manusia, sangat intensif dijadikan kajian sebagai objek formal ilmu teknik dan ditopang dengan tuntutan industri, terutama di negara maju. Kondisi ini melahirkan cabang bidang ilmu teknologi pangan yang merupakan penerapan ilmu-ilmu dasar (kimia, fisika dan mikrobiologi) serta prinsip-prinsip teknik (engineering), ekonomi dan manajemen pada seluruh mata rantai penggarapan bahan pangan dari sejak pemanenan sampai menjadi hidangan. Teknologi pangan merupakan penerapan ilmu dan teknik pada penelitian, produksi, pengolahan, distribusi, penyimpanan pangan berikut pemanfaatannya. Ilmu terapan yang menjadi landasan pengembangan teknologi pangan meliputi ilmu pangan, kimia pangan, mikrobiologi pangan, fisika pangan dan teknik proses. Ilmu pangan merupakan penerapan dasar-dasar biologi, kimia, fisika dan teknik dalam mempelajari sifat-sifat bahan pangan, penyebab kerusakan pangan dan prinsip-prinsip yang mendasari pegolahan pangan (Wikipedia, 2010).

Jenis-Jenis Peralatan Pertanian Tradisional di Indonesia

Bercocok tanam yang baik pada persawahan maupun tegalan atau sawah tadah hujan, pekerjaan pertama kali yang dilakukan adalah mengolah tanah. Pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang paling berat dan memakan waktu lebih lama (Herawati & Sumintarsih, 1989-1990:17). Tanah memang perlu diolah, sebab jika tanah tidak diolah dengan baik maka tanaman tidak akan tumbuh dengan baik karena tanaman tidak akan menyerap makanan dengan sempurna. Maka dari itu petani yang mengerjakan pengolahan tanah memerlukan alat yang produktif (Syaifullah,Hilma.1983 :7). Alat alat pengolahan tanah persawahan yang terdiri dari bajak, cangkul, jungkat atau garu, dan sabit. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan berikut ini

  1. Luku (Bajak)

Bajak terbuat dari kayu dan besi. Bagian yang terbuat dari besi adalah bagian yang tajam, yang oleh masyarakat di sebut lanjam. Sedang bagian-bagian lainnya seperti cacadan, gugan, singkal dan lain sebagainya terbuat dari kayu. Bajak dapat berfungsi sebagai alat pembalik tanah di persawahan, apabila dilengkapi alat lain yang menjadi pasangannya yaitu rakitan. Rakitan yang terbuat dari kayu dan besi ini dapat dimiliki dengan cara pembuatan. Artinya petani tidak perlu membeli tetapi cukup membuat sendiri. Pada saat dioperasikan bajak dapat berfungsi sebagi pengendali. Mengenai kedalaman hasil bajak dapat diatur oleh pembajak itu sendiri. Bila ia menginginkan hasil bajak lebih dalam (lebih dari 20 cm), ujung gugon bagian belakang dapat diinjak. Dengan cara demikian, memang pembajak jalannya terpincang-pincang sebab kaki yang satu berada di atas bajak, sedang kaki lainnya berada di atas tanah, meskipun demikian hasilnya memuaskan (Dakung, Sugiarto dkk.1989 : 70-72). Luku (bajak) juga disebut sebagai Rakkala/Pajjeko, dan bagian-bagiannya sebagai berikut :

a) Tekko Rakkala : Bentuknya melengkung namun hampir menyerupai huruf S dalam abjad latin. Bahan utamanya adalah berasal dari kayu yang kuat dan awet . rata-rata panjang sebuah tekko 3-4 cm dan lebarnya sekitar 11 cm. b) Watang Rakkala/batang pajjeko adalah batang rakka yang terbuat dari kayu dengan kualitas seperti kayu hitam, kayu sapu dan sebagainya. Batang bajak ini bentuknya gerak pipih yang sepangkalnya ukuran panjang rata-rata 345 cm. Bentuk lubangan pada tekko terbentuk segiempat. Warang Rakkala/Batang Pajjeko inilah yang diikatkan pada Ajoa bila digunakan untuk menari bajak. c)Cuci/Isara’ adalah sepotong kayu berbentuk pipih dan bertangkai serta mempunyai ujung yang lancip dan runcing yang dimasukkan agar mudah masuk ke dalam tanah atau membongkar tanah.

b) Gigi/Pattape’ adalah alat yang dipasang pada ujung tekko, yang berfungsi untuk membongkar dan membalik tanah, terbuat dari sepotong kayu yang ujungnya runcing atau lancip. Gigi ini berfungsi sebagai bantalan daripada Sui. e)Parajo /Kunrali yaitu tali menali yang terbuat dari sabut kelapa,rotan ijuk dan lain-lain. Tali temali ini kegunaannya untuk menghubungkan antara Watang Rakkala dengan Ajoa’, atau tempat merangkai/mengikat binatang yang sedang mengolah tanah di sawah atau kebun (Saadah,Sri.1991 :35-37)

  1. Pacul (Cangkul)

Cangkul dapat dilihat dari berbagai segi. Dari segi bahan misalnya, cangkul terbuat dari kayu dan besi. Bagian yang terbuat dari kayu adalah tangkainya, yang oleh masyarakat disebut sebagai doran. Sedang bagian yang terbuat dari besi adalah daunnya yang meliputi : kuping, bawak dan tlacak. Dalam pengolahan tanah cangkul dapat digunakan untuk membalik dan meratakan tanah, tapi juga dapat digunakan untuk memperbaiki saluran air, dan memperbaiki atau membuat pematang (Dakung, Sugiarto dkk.1989 : 73-74). Cangkul juga disebut sebagai bingkung, bagian-bagian cangkul adalah sebagai berikut : a) Mata Bingkung terbuat dari besi bentuknya segi empat (trapesium sama kaki) dan pipih, dan dipasang pada ujung papeng (papan) bingkung. b) Tarungeng Bingkung/Tarungan Bingkung adalah pegangan cangkul yang terbuat dari bahan kayu yang panjangnya rata-rata 110 cm atau bergantung dari tinggi badan pemiliknya dan bentuknya bulat. c)Papeng Bingkung/Papang Bingkung ialah alat yang terbuat dari kayu dengan berkualitas baik seperti; kayu cendana, bitti, jati, ulin, atau dari kayu bayam. Papan cangkul ini berfungsi sebagai tempat mata cangkul dan sekaligus sebagai tempat pegangan/kaitan bagi Bingkung (pegangan cangkul). d) Pallacak/ paccala’ adalah alat yang berfunsi untuk menguatkan pegangan cangkul agar tidak longgar atau mudah terlepas. Alat ini terbuat dari kayu yang pengadaannya dibuat sendiri. Penggunaan alat ini ialah dengan jalan memasukkan atau menyisipkan di antara lobang yang terdapat pada papeng/papang bingkung dimana pangkal pegangan cangkul dimasukkan. Jadi fungsinya seperti baut (Saadah, Sri.1991 :34).

3. Jungkat (Garu)


Jungkat atau garu seluruhnya terbuat dari kayu. Pengadaan alat ini dapat membuat sendiri atau juga dapat memesan pada ahlinya. Berbeda dengan bajak, garu hanya dipergunakan untuk meratakan dan menghaluskan tanah persawahan ketika akan ditanami padi. Meskipun demikian, caranya tidak begitu berbeda sebab alat tersebut sama-sama menggunakan tenaga hewan (kerbau/sapi) dan untuk mengoperasikannya membutuhkan keahlian tersendiri. Dan dibagian cacadan terdapat bagian-bagian ada alat yang digunakan sebagai duduknya pengendali yang dinamakan tunggangan. (Dakung, Sugiarto dkk.1989 : 75). Garu juga disebut sebagai salaga (sisir). Fungsinya yang sebagai penghalus tanah dimaksudkan juga untuk membersihkan sisa-sisa kotoran rumput dan akar tanaman, meratakan pupuk yang telah disebarkan sekaligus penghancur gumpalan tanah yang masih kasar dan berbongkah besar. Selain yang menarik alat ini binatang dapat juga ditarik oleh manusia. Salaga memiliki beberapa bagian di antaranya sebagai berikut : a)Ale Salaga (Tetteran) yaitu alat utama dari sebuah salaga yang terbuat dari sebuah kayu pipih dengan panjang sekitar 2-2,5 meter dimana terletak gigi yang dapat meratakan tanah. b) Isi Salaga/Gigi salaga yaitu alat yang terpasang pada ale terdiri dari potongan-potongan kayu (bambu) yang bulat rincing dengan panjang 20-30 cm dan dipasang pada lobang-lobang yang tersedia pada ale salaga. Umumnya jumlah gigi yang terpasang berfungsi untuk menggiris, menghaluskan dan meratakan tanah harus dalam jumlah ganjil. c)Watang Salaga/Batang Salaga adalah semacam pegangan bagi orang yang melakukan penggaruan dan bahannya terbuat dari bambu. d) Kajang-kajang Salaga yaitu alat yang berhubungan dengan Batang salaga dan dipasang pada Ale (160-200cm). e)Totto Salaga/Jonggo Salaga yaitu 2 batang bambu yang sebesar pergelangan tangan, digunakan untuk menggaru dan dipasang di bawah Watang/Batang salaga. f) Uttu Salaga yaitu alat yang dipasang pada Totto salaga, alat ini berjumlah 2 buah yang panjangnya sekitar 100 cm dengan fungsi sebagai penghubung (pengikat). g) Parajo Salaga yaitu tali-temali yang digunakan untuk mengikat dan menghubungkan bagian-bagian dari salaga dan umumnya terbuat dari rotan (Saadah, Sri.1991 :39-40).

4. Sabit (Parang Panjang)

Alat yang digunakan untuk merombak dan menebas rumput. Sebutan parang panjang sebenarnya hanya untuk membedakannya dengan parang pendek yang sering dipakai ibu-ibu rumah tangga di dapur. Ada juga yang menggunakan sabit (orang jawa) berbentuk melengkung ke depan. Biasanya bagian pangkal (untuk genggaman ) terbuat dari kayu dan badannya terbuat dari besi plat baja. Bagian bawah kecil tapi tebal sedangkan semakin ke atas makin besar tapi menipis dan melebar (Manan, Fadjria Novari.1990 :37-38).

5. Garpu

Berbentuk seperti sendok garpu tetapi ukurannya besar. Garpu digunakan untuk membongkar dan membalik tanah, jadi fungsi garpu itu sama seperti luku (bajak). Tangkainya terbuat dari kayu sedangkan daunnya dari besi. 6. Pacul Ragak Pacul ragak bagian tangkainya terbuat dari kayu sedangkan bagian lainnya terbuat dari besi yang runcing dan tajam. Bentuk alat ini seperti garpu tetapi dalam ukuran yang lebih kecil. Fungsi alat ini untuk membersihkan sampah atau sisa-sisa jerami sebelumnya seperti halnya golok, garpu, cangkul (Santoso, Bhudi. 1990 : 71-72).

Peralatan pertanian Modern di Indonesia

Jenis-jenis peralatan pertanian modern di Indonesia, tidak jauh berbeda dengan bentuk alat-alat tradisional , tetapi sudah jauh mengalami perubahan. Perubahan tersebut ditandai dengan bentuk dan cara kerja alat tersebut. Alat-alat pertanian modern lebih bersifat praktis dalam pemakaiannya dan lebih cepat cara kerjanya. Dengan menghasilkan hasil pertanian yang baik dan efektif serta efisien waktu dan tenaga. Dibawah ini merupakan sebagian alat pertanian modern yang terdapat di Indonesia. Traktor modern merupakan suatu peralatan pertanian yang dihasilkan dari penggembangan model bajak tradisioanal ke bajak modern. Alat pengeraknya menggunakan kerja mesin dan menggunakan bahan bakar solar atau bensin.

Dampak Positif serta Dampak Negatif dari Perlataan Pertanian Tradisional dan Modern bagi Lingkungan
A. Peralatan Tradisional

Dengan adanya teknologi pengolahan tanah secara tradisional, seperti cangkul atau bajak yang memiliki dampak atau pengaruh yang besar dalam masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan di Indonesia. Dampak-dampak itu memang sebagian besar dianggap sangat menguntungkan bagi lingkungan,tetapi jika dilihat dari dampak terhadap lingkungan sendiri peralatan pertanian tradisional ini sangat sedikit sekali memiliki pengaruh negatif pada lingkungan. Walaupun memiliki banyak manfaat terhadap lingkungan, tetapi peralatan ini juga memiliki banyak sekali kelemahan jika dilihat dari segi waktu dan tenaga. Di bawah ini kami akan mencoba menguraikan berbagai dampak yang ditimbulkan dari peralatan pertanian tradisional tersebut.
1) Dampak Negatif: a) Membutuhkan waktu yang lama untuk menggarap tanah sehingga tidak efisien terhadap waktu dan tenaga. b) Waktu yang lama dalam membajak juga menyebabkan waktu tanam mengalami kemuduran dan tidak tepat pada waktunya. c) Pembajakan sangat tergantung pada kondisi kerbau atau sapi karena bila kondisi hewan kurang baik (sakit) maka hasilnya kurang maksimal.
2) Dampak Positif: a) Penggunaan bajak mempengaruhi kualitas tanah, karena membajak sawah dengan menggunakan kerbau / sapi akan lebih berkualitas. b) Sawah jadi subur karena menggunakan bajak, kotoran kerbaunya langsung jatuh pada sawah yang berguna untuk pupuk kandang. c) Membuka peluang kerja bagi pemilik kerbau karena jasanya sering dipakai d) Tidak menyebabkan polusi udara (CO2) seperti menggunakan traktor. Agar pemilik kerbau tidak tertutup mata pencahariannya maka kadang-kadang dalam suatu wilayah itu diterapkan aturan bahwa tidak boleh menggunakan traktor untuk menggarap tanah. Contohnya ialah seperti yang terjadi dalam Desa Wajak Kabupaten Malang bagian selatan, yang mana semua petani menggunakan jasa pemilik kerbau atau sapi untuk mengolah tanahnya sehingga sudah menjadi suatu kebiasaan umum yang sudah membudaya. Hal itu berarti membuktikan bahwa teknologi tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan suatu daerah. Jadi semakin tinggi kebudayaan maka semakin tinggi pula teknologinya.

B. Peralatan Modern

Semakin maju dan berkembangnya dunia pertanian pada jaman sekarang ini, tidak menutup kemungkinan, alat-alat pertanian yang tradisional tadi banyak ditinggalkan, apalagi pada sebagian masyarakat pertanian di kota-kota besar. Alat-alat tersebut tergolong modern dan lebih bersifat praktis, serta lebih maksimal dan efisien. Dengan begitu penulis akan mencoba menjabarkan berbagai kelemahan berserta kekurangan yang ditimbulkan oleh peralatan pertanian modern ini. Berikut merupakan dampak-dampak yang yang ditimbulkan.
1) Dampak Negatif: a) Polusi udara yang disebabkan oleh bahan bakar fosil, seperti bensin dan solar. b) Kesuburan tanah menjadi berkurang, karena telah tercemar bahan bakar tersebut.
2) Dampak Positif: a) Hasil yang diperoleh lebih maksimal, dan cara kerja lebih cepat. b) Hemat waktu dan tenaga.



KESIMPULAN

Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Sedangkan teknologi pertanian merupakan penerapan prinsip-prinsip matematika dan ilmu pengetahuan alam dalam rangka pendayagunaan secara ekonomis sumberdaya pertanian dan sumberdaya alam untuk kesejahteraan manusia. Teknologi pertanian merupakan suatu teknologi tradisional yang mempunyai kaitan dengan unsur-unsur kebudayaan lainnya, karena perkembangan dan kaitannya yang erat dengan kehidupan suatu masyarakat. Mengolah tanah dengan menggunakan traktor lebih efisien karena hemat waktu dan tenaga. Dengan begitu peralatan pertanian yang modernpun juga memberikan banyak sekali dampak buruk untuk lingkungan. Adakalanya juga, kita sebagai manusia harus lebih pandai dan lebih kritis dalam memilih peralatan pertanian yang tidak merusak lingkungan, tetapi lebih menjaga lingkungan. Disadari atau tidak peralatan yang seperti di atas memang masih sulit ditemukan di Indonesia. Jika ada harganyapun sangat mahal dan tidak sebanding dengan hasil yang diberikan. Dampak teknologi pertanian memang sangat besar bagi kehidupan manusia, khususnya mengenai produk hasil pertanian. Dengan begitu manusia bisa lebih menikmati hasil-hasil pertanian tanpa perlu mengelohnya secara manual, tetapi sudah dapat dinikmati hasilnya. Kesimpulan yang dapat kami ambil, adalah begitu banyak pengaruh serta dampak yang ditimbulkan dari teknologi pertanian, bagi dari sektor sosial, ekonomi, dan budaya. Oleh karena itu kita sebagai manusia yang sadar akan teknologi, harus lebih pandai dalam menyiasatinya.



DAFTAR RUJUKAN
Buku:
Dakung, Sugiarto dkk. 1989. Teknologi Pertanian Tradiosional Sebagai Tanggapan Aktif Masyarakat Terhadap Lingkungan di Daerah Pekalongan. Jakarta: Depdikbud.
Herawati, Isni & Sumintarsih. 1989-1990. Peralatan Produksi Tradisional Dan Perkembangannya Di Daerah Istimewah Yogyakarta. Yogyakarta: Depdikbud.
Manan, Fadjria Novari. 1990. Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya di Daerah Jambi. Jakarta: Depdikbud.
Saadah, Sri. 1991. Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya Daerah Sulawesi Selatan. Jakarta : Depdikbud.
Santoso,Budhi.1990. Teknologi Pertanian Tradiosional Sebagai Tanggapan Aktif Masyarakat Terhadap Lingkungan di Cianjur. Jakarta: Depdikbud.
Soejono. 1975. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: PT Grafitas.
Syaifullah,Hilma.1983. Pendidikan Keterampilan Pertanian. Jakarta: Karya Unipress.
Internet:
Wikipedia. 2010. Pertanian. (Online). (http://id.wikipedia.org/wiki/Pertanian, diakses tanggal 24 Oktober 2010).

Wikipedia. 2010. Teknologi Pertanian. (Online). (http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi_pertanian, diakses tanggal 24 Oktober 2010).




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar